Dosing Kimia Tidak Akurat? Jangan Ganti Pompa Dulu! Cek Fenomena ‘Siphoning’ & Backpressure

Dalam operasional Water Treatment Plant (WTP), akurasi adalah segalanya.

Bayangkan skenario ini: Engineer Anda sudah menghitung dosis koagulan (PAC) dengan teliti. Setting stroke pompa dosing diatur di 40%. Namun di akhir bulan, bagian Purchasing komplain: “Kenapa stok bahan kimia habis lebih cepat 30% dari rencana?”

Atau sebaliknya, pH air limbah tetap asam padahal pompa Caustic Soda sudah disetting maksimal.

Biasanya, yang disalahkan adalah pompanya. “Pompanya jelek, membrannya lemah, stroke-nya error,” kata teknisi. Padahal, 80% masalah ketidakakuratan dosing bukan karena kerusakan mesin pompa, melainkan karena Kesalahan Desain Hidrolis.

Ada dua musuh utama dalam sistem dosing yang sering diabaikan: Siphoning dan Lack of Backpressure.

1. Fenomena Siphoning (Efek Gravitasi)

Ini sering terjadi jika Tangki Kimia diletakkan lebih tinggi dari titik injeksi.

  • Contoh: Tangki di atas skid (ketinggian 1,5 meter), sedangkan titik injeksi masuk ke bak penampung di lantai dasar (0 meter).
  • Masalah: Sesuai hukum gravitasi, cairan akan mengalir sendiri ke bawah meskipun pompa dalam keadaan MATI (OFF).
  • Akibat: Terjadi Over-dosing parah. Bahan kimia terus menetes tanpa terkendali. Tagihan pembelian kimia membengkak tanpa hasil yang jelas.

2. Absennya Backpressure (Tekanan Balik)

Pompa dosing tipe diafragma (solenoid/motor driven) membutuhkan tekanan lawan (resistance) minimal 1-2 Bar agar bola check valve di dalam head pompa bisa bekerja menutup dan membuka dengan tegas.

  • Masalah: Jika Anda menginjeksi ke saluran terbuka (tekanan atmosfir = 0 Bar), katup bola pompa akan “melayang”.
  • Akibat: Setiap hentakan stroke tidak memindahkan volume yang konsisten. Kadang 1 ml, kadang 1,5 ml. Akurasi kacau.

Solusi Engineering: Lengkapi Sistem Dosing Anda

Di PT. Nida Tirta Utama, kami selalu menekankan kepada klien (baik Engineer maupun Purchasing): “Jangan cuma beli pompa telanjang.”

Agar sistem dosing presisi, Anda memerlukan aksesoris berikut ini:

1. Backpressure Valve (BPV) & Anti-Siphon Valve Alat kecil ini dipasang di saluran keluar pompa (discharge).

  • Fungsi: Ia memberikan tekanan pegas buatan (misal disetting 2 Bar). Pompa harus “mendorong” lebih kuat dari 2 Bar agar cairan bisa keluar.
  • Hasil: Saat pompa mati, katup tertutup rapat (Anti-Siphon). Saat pompa nyala, volume injeksi menjadi sangat konsisten dan linier.
  • Nilai untuk Purchasing: Investasi BPV murah, tapi bisa mencegah pemborosan bahan kimia jutaan rupiah akibat over-dosing.

2. Calibration Column (Gelas Kalibrasi) Banyak teknisi hanya mengandalkan “kira-kira” atau melihat level tangki besar yang sulit dibaca.

  • Solusi: Pasang Calibration Column (tabung ukur) di sisi hisap (suction) pompa.
  • Cara Kerja: Tutup kran tangki utama, nyalakan pompa selama 1 menit, dan lihat berapa mililiter cairan yang tersedot dari tabung kalibrasi.
  • Hasil: Anda mendapatkan data Real Flow Rate (ml/menit). Ini adalah satu-satunya cara validasi paling akurat.

3. Rotameter LZS untuk Visualisasi Untuk pemantauan real-time, pasang Rotameter LZS (Plastic Tube) di jalur discharge.

  • Fungsi: Operator bisa langsung melihat jika aliran berhenti (mampet) atau ada gelembung udara, tanpa harus menunggu hasil lab air jelek dulu.
  • Produk Nida Tirta: Kami menyediakan Rotameter LZS dengan float khusus yang tahan korosi bahan kimia, dengan koneksi drat yang mudah dipasang.

Kesimpulan: Akurasi = Penghematan

Membeli pompa dosing mahal sekalipun tidak akan akurat jika instalasinya melawan hukum fisika. Bagi tim Purchasing, menyetujui pembelian aksesoris seperti Backpressure Valve dan Calibration Column adalah langkah cerdas untuk Cost Reduction jangka panjang.

Sistem dosing Anda sering boros atau tidak stabil? Jangan tebak-tebakan. Hubungi tim engineering Nida Tirta. Kami akan bantu hitung apakah Anda perlu Backpressure Valve atau perlu kalibrasi ulang.

Scroll to Top