Cell Constant Conductivity Sensor: Pilih K=0.1, 1.0, atau 10.0? Panduan Agar Tidak Salah Beli untuk RO & IPAL

Dalam proses pengadaan sensor Conductivity (Daya Hantar Listrik) atau TDS, sering terjadi dialog seperti ini:

Purchasing: “Pak, saya mau beli sensor Conductivity.” Vendor: “Butuh yang Cell Constant (K) berapa? 0.1, 1.0, atau 10.0?” Purchasing: “Wah, saya kurang tahu. Yang standar saja.”

Jika Purchasing kemudian membeli yang “standar” (biasanya K=1.0), dan ternyata aplikasinya adalah untuk Ultra Pure Water atau Air Limbah Pekat, maka alat tersebut TIDAK AKAN BISA DIPAKAI.

Jika dipasang di air murni, angkanya akan lompat-lompat tidak stabil. Jika dipasang di air limbah, angkanya akan stuck di “Over Range”.

Agar investasi perusahaan tidak sia-sia, mari kita pahami aturan main Cell Constant (K). Ini bukan sekadar angka aksesoris, ini adalah “lensa” dari sensor tersebut.

Analogi Sederhana: Kaca Pembesar vs Lensa Wide

Bayangkan Anda ingin memotret.

  • Jika objeknya semut kecil (Ion sedikit/Air Murni), Anda butuh Lensa Makro (Zoom in).
  • Jika objeknya pemandangan luas (Ion banyak/Air Limbah), Anda butuh Lensa Wide (Zoom out).

Cell Constant (K) adalah lensa tersebut.

Panduan Memilih Nilai K berdasarkan Aplikasi

Berikut adalah contekan teknis untuk Engineer dan Purchasing dalam memilih sensor CCT-3300 Series:

1. K = 0.01 atau 0.1 (Lensa Makro)

  • Fungsi: Untuk air yang SANGAT MURNI (sedikit ion). Sensor ini memiliki elektroda yang sangat rapat atau luas penampangnya besar untuk menangkap sinyal listrik yang sangat lemah.
  • Wajib Dipakai Di:
    • RO Permeate (Output RO): Biasanya conductivity < 20 µS/cm.
    • Demineralized Water (Demin): Conductivity < 1 µS/cm.
    • Boiler Condensate: Air kondensat murni.
  • Resiko Salah Beli: Jika Anda pakai K=1.0 di sini, pembacaan di angka rendah (misal 5 µS/cm) akan sangat tidak akurat dan bergoyang (fluctuating).

2. K = 1.0 (Lensa Standar)

  • Fungsi: Ini adalah sensor “General Purpose”. Paling umum ada di pasaran.
  • Wajib Dipakai Di:
    • Raw Water: Air tanah, air sungai, air PAM.
    • Cooling Tower: Air pendingin standar.
    • Rentang Ukur: 20 µS/cm hingga 2.000 µS/cm.
  • Resiko Salah Beli: Tidak bisa dipakai untuk air laut atau air limbah pekat.

3. K = 10.0 (Lensa Wide)

  • Fungsi: Untuk air yang SANGAT KOTOR atau ASIN (banyak ion). Jarak antar elektroda dibuat jauh agar tidak terjadi “korsleting” atau saturasi sinyal.
  • Wajib Dipakai Di:
    • Wastewater (IPAL): Air limbah inlet yang pekat.
    • Brine System: Air garam untuk regenerasi softener.
    • Sea Water Desalination: Air laut (Conductivity > 30.000 µS/cm).
  • Resiko Salah Beli: Jika Anda pakai K=1.0 di air limbah, layar akan menunjukkan “1 —” (Over Range) karena sensor tidak mampu membaca kepadatan ion setinggi itu.

Solusi Cerdas: CCT-3300 Controller (Multi-Constant)

Kabar baiknya bagi Purchasing, Anda tidak perlu membeli jenis Controller (Layar) yang berbeda-beda untuk setiap sensor.

Controller CCT-3300 dari PT. Nida Tirta Utama memiliki fitur Multi-Cell Constant Support. Satu unit alat ini bisa diprogram untuk membaca sensor K=0.01, 0.1, 1.0, maupun 10.0.

Keuntungan bagi Perusahaan:

  1. Standarisasi Stok: Purchasing cukup menyetok 1 jenis Controller (CCT-3300) untuk seluruh pabrik.
  2. Fleksibilitas: Jika ada perubahan sistem (misal dari air baku jadi air RO), controller lama tetap bisa dipakai, cukup ganti sensornya saja.
  3. Cost Saving: Harga sensor pengganti (Probe Only) jauh lebih murah daripada membeli satu set baru.

Kesimpulan:

  • Untuk RO/Demin -> Beli Sensor K=0.1
  • Untuk Air Baku -> Beli Sensor K=1.0
  • Untuk Limbah/Garam -> Beli Sensor K=10.0

Jangan biarkan kesalahan satu digit angka (0.1 vs 1.0) membuat sistem monitoring pabrik Anda lumpuh.

Masih ragu aplikasi Anda masuk kategori mana? Foto label sensor lama Anda atau ceritakan proses air Anda ke WhatsApp kami. Tim Engineering Nida Tirta akan memilihkan konstanta yang tepat.

Scroll to Top