Cara Menentukan Range Pressure Transmitter: Jangan Beli yang ‘Pas-pasan’ Jika Ingin Awet!

Salah satu penyebab utama kerusakan Pressure Transmitter (Sensor Tekanan) di industri bukanlah karena kualitas barangnya jelek, melainkan karena Kesalahan Pemilihan Range (Measuring Range).

Seringkali terjadi dialog seperti ini antara User dan Purchasing:

Engineer: “Pak, tekanan di pompa hidrolik kita maksimal 100 Bar.”

Purchasing: “Oke, saya carikan sensor yang range-nya 0-100 Bar.”

Secara logika awam, ini terdengar benar. Tapi secara Engineering Best Practice, ini adalah resep bencana. Mengoperasikan sensor pada batas maksimumnya (100% Full Scale) secara terus-menerus adalah cara tercepat untuk memperpendek umur alat.

Mengapa Anda tidak boleh membeli sensor dengan range “pas-pasan”? Dan berapa range yang seharusnya dibeli? Berikut panduannya.

1. Bahaya Bekerja di ‘Red Line’

Bayangkan sebuah mobil yang Speedometer-nya mentok di 180 km/jam. Jika Anda setiap hari menyetir mobil tersebut dengan kecepatan 180 km/jam, mesin pasti akan cepat jebol karena bekerja di batas limitnya.

Hal yang sama berlaku untuk sensor tekanan.

Jika tekanan operasi Anda 10 Bar, dan Anda menggunakan sensor 0-10 Bar:

  1. Overpressure Risk: Sedikit saja ada lonjakan tekanan (pressure spike) menjadi 10.5 Bar, sensor sudah masuk ke zona kritis (Over Range). Membran sensor akan “melar” dan kehilangan akurasi, atau bahkan pecah.
  2. Fatigue (Kelelahan): Membran sensor terus-menerus meregang maksimal. Elastisitasnya akan hilang lebih cepat.

2. Rumus Safety Factor: The 1.5x Rule

Standar desain instrumentasi merekomendasikan penggunaan Safety Factor minimal 1.3x hingga 1.5x dari tekanan operasi normal maksimum.

Rumusnya:

$$Range~Sensor \ge 1.5 \times Tekanan~Operasi~Maksimum$$

Contoh Kasus:

  • Tekanan Operasi Normal: 6 Bar.
  • Tekanan Maksimum (saat pompa start): 10 Bar.
  • Perhitungan: $10~Bar \times 1.5 = 15~Bar$.
  • Rekomendasi Nida Tirta: Belilah sensor dengan range standar terdekat di atasnya, yaitu 0 – 16 Bar.

Jangan khawatir resolusi pembacaan menjadi kasar. Sistem PLC modern (12-bit atau 16-bit analog input) mampu membaca range 0-16 Bar dengan sangat presisi hingga 2 angka di belakang koma.

3. Mitos Purchasing: “Range Lebih Besar = Lebih Mahal?”

Banyak bagian Purchasing takut menaikkan range karena mengira harganya akan lebih mahal.

Faktanya: Untuk Pressure Transmitter industri (seperti merk ADZ Nagano), harga sensor range 0-10 Bar, 0-16 Bar, hingga 0-100 Bar biasanya SAMA SAJA.

Harga baru akan berbeda jika Anda masuk ke range “Special High Pressure” (misal di atas 600 Bar) atau “Low Pressure/Vacuum” (di bawah 1 Bar).

Jadi, menaikkan range (Upsizing) demi keamanan tidak membebani anggaran belanja sama sekali.


Keunggulan ADZ-SML 10.0: Overpressure Protection

Selain memilih range yang tepat, pilihlah sensor yang memiliki toleransi Overpressure yang tinggi.

Mengacu pada datasheet ADZ-SML 10.0 yang didistribusikan PT. Nida Tirta Utama:

Sensor ini didesain dengan teknologi Stainless Steel Membrane yang tangguh.

  • Untuk sensor range 0 – 10 Bar, ADZ memberikan batas aman (Overload Limit) hingga 20 Bar (2x Lipat).
  • Untuk sensor range 0 – 250 Bar, batas amannya hingga 500 Bar.

Ini memberikan “Double Protection”. Anda sudah melebihkan range (1.5x), ditambah sensornya sendiri punya toleransi (2x). Hasilnya? Sensor super awet yang tahan terhadap Water Hammer maupun kesalahan operasi.

Kesimpulan:

  1. Engineer: Jangan minta range pas-pasan. Selalu kalikan 1.5 dari tekanan kerja.
  2. Purchasing: Jangan ubah spesifikasi Engineer ke range yang lebih kecil. Harga range 16 Bar dan 10 Bar itu sama, tapi 16 Bar jauh lebih aman.

Bingung konversi satuan Bar ke PSI atau MPa?

Tim kami siap membantu Anda memilihkan part number yang tepat sesuai tekanan pompa Anda.

Scroll to Top