Dalam pengadaan instrumentasi Water Treatment Plant (WTP), istilah teknis seringkali membingungkan bagian Purchasing. Salah satu kasus paling klasik adalah permintaan pembelian “pH Meter Online”.
Purchasing kemudian mencari barang termurah dan menemukan alat bernama “pH Transmitter”. Barang dibeli, dipasang, lalu Engineer di lapangan komplain keras:
“Loh, ini alatnya kok cuma bisa baca pH doang? Cara nyuruh pompa dosing nyala otomatis gimana? Gak ada Relay-nya!”
Akhirnya, perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan jutaan rupiah untuk membeli PLC (Programmable Logic Controller) terpisah agar sistem bisa berjalan otomatis. Niat hemat malah jadi boncos.
Agar tidak terjadi “salah beli”, mari kita bedah perbedaan fundamental antara pH Transmitter dan pH Controller.
1. pH Transmitter (The Messenger)
Sesuai namanya, tugas utamanya hanya MENGIRIMKAN DATA.
- Cara Kerja: Sensor membaca pH air -> Transmitter mengubahnya menjadi sinyal listrik (biasanya 4-20mA atau RS485). Sinyal ini dikirim ke “Otak Utama” pabrik (PLC atau SCADA) di ruang kontrol.
- Karakter: “Dumb Device” (Alat pasif). Dia tidak punya kemampuan mengambil keputusan. Jika pH asam, dia hanya melapor “pH Asam”, tapi tidak bisa menyalakan pompa penetral.
- Kapan Membelinya? Jika pabrik Anda sudah memiliki sistem SCADA terpusat yang canggih dan semua kontrol dilakukan lewat komputer pusat.
2. pH Controller (The Smart Brain)
Ini adalah alat ALL-IN-ONE. Dia membaca, berpikir, dan bertindak.
- Cara Kerja: Selain mengeluarkan sinyal 4-20mA, dia memiliki RELAY (Saklar Otomatis) di dalamnya.
- Logika: Anda bisa menyetting di layar: “Jika pH turun di bawah 6, nyalakan Relay 1 (Pompa Caustic). Jika pH naik di atas 9, nyalakan Relay 2 (Pompa Asam).”
- Karakter: “Smart Device” (Alat mandiri). Dia bisa mengontrol pompa secara langsung tanpa butuh PLC tambahan.
- Kapan Membelinya? Untuk sistem stand-alone (mandiri). Contoh: Dosing Skid, IPAL Komunal, atau tangki netralisasi yang tidak terhubung ke ruang kontrol pusat.
Tabel Perbandingan Cepat untuk Purchasing
| Fitur | pH Transmitter (Standard) | pH Controller (pH-3500 Nida Tirta) |
| Fungsi Utama | Monitoring / Baca Data | Monitoring + Kontrol Otomatis |
| Output Sinyal | 4-20mA (ke PLC) | 4-20mA (ke PLC) |
| Relay Output | TIDAK ADA | ADA (High & Low Limit) |
| Koneksi Pompa | Tidak Bisa Langsung | Bisa Langsung (Dry Contact) |
| Kebutuhan PLC | Wajib Ada PLC | Tidak Wajib (Bisa Mandiri) |
| Harga | Lebih Murah ($) | Value for Money ($$) |
Bedah Fitur: Mengapa Engineer Suka pH/ORP-3500?
Jika Anda membutuhkan Controller, PT. Nida Tirta Utama merekomendasikan seri pH/ORP-3500. Mengacu pada datasheet teknis, ini alasannya:
1. Double Relay Control (Hi/Lo Limit)
Banyak controller murah hanya punya 1 Relay. Seri 3500 punya 2 Relay Terpisah.
- Skenario: Relay 1 untuk pompa basa (Low Limit), Relay 2 untuk pompa asam (High Limit). Satu alat bisa mengamankan dua kondisi sekaligus.
2. Isolated 4-20mA Output
Ini fitur “mahal”. Output arusnya terisolasi secara elektrik.
- Manfaat: Jika terjadi korsleting atau lonjakan listrik di sisi PLC, controller tidak akan ikut terbakar. Selain itu, sinyal data jauh lebih stabil dari gangguan (noise) frekuensi inverter.
3. Universal Compatibility
Mendukung 6 jenis larutan Buffer standar (NIST 10.00, 9.18, 7.00, 6.86, 4.00, 4.01). Artinya, Engineer Anda tidak akan kesulitan mencari cairan kalibrasi di pasaran.
4. Hybrid Mode (Instrument/Transmitter)
Alat ini fleksibel. Bisa disetting sebagai “Controller Murni” yang menggerakkan relay, atau disetting sebagai “Transmitter Mode” jika suatu hari nanti pabrik Anda upgrade ke sistem SCADA. Investasi jangka panjang yang aman.
Kesimpulan:
- Purchasing: Jangan tergiur harga murah Transmitter jika Engineer Anda meminta sistem yang bisa “start/stop pompa sendiri”. Belilah Controller pH-3500.
- Engineer: Pastikan Anda menspesifikasikan kebutuhan “Relay Output” di PR (Purchase Requisition) Anda.
Butuh Wiring Diagram untuk koneksi ke Dosing Pump?
Tim teknis kami bisa mengirimkan panduan instalasi pH-3500 agar teknisi listrik Anda tidak bingung.




