Dalam sistem perpipaan industri, terutama pada jalur discharge pompa, hidrolik, atau kompresor, Pressure Transmitter adalah komponen yang paling sering diganti (“barang fast moving”).
Keluhannya selalu sama: “Baru pasang 2 bulan, sinyal 4-20mA sudah hilang.” “Angka di PLC diam di 0 bar atau mentok di nilai maksimum (Over Range).”
Tim Purchasing sering bertanya-tanya, “Kenapa sensor ini cepat sekali rusak? Apa kualitasnya jelek?” Sementara Engineer di lapangan bingung karena saat dicek dengan Pressure Gauge jarum (analog), tekanan sistem terlihat normal-normal saja, jauh di bawah batas maksimum sensor.
Jika ini terjadi di pabrik Anda, besar kemungkinan penyebabnya adalah “The Invisible Killer” alias Water Hammer atau Pressure Spikes.
Apa itu Pressure Spike & Mengapa Mematikan?
Saat pompa menyala (start-up) atau katup solenoid menutup tiba-tiba, terjadi lonjakan tekanan sesaat. Lonjakan ini berlangsung sangat cepat (dalam hitungan milidetik) sehingga tidak sempat terbaca oleh mata manusia atau alat ukur analog.
Namun, bagi sensor tekanan dengan elemen membran yang sensitif, lonjakan ini seperti pukulan palu godam.
- Contoh: Sistem beroperasi di 10 Bar. Namun saat valve menutup, terjadi spike hingga 50 Bar selama 0,05 detik.
- Akibat: Membran sensor (biasanya keramik pada sensor murah) retak mikro atau pecah. Minyak silikon di dalamnya bocor, dan sensor mati total.
Masalah Kedua: Vibrasi Mesin
Pada unit Hydraulic Power Pack atau rumah pompa, getaran mesin sangat intens. Sensor murah yang komponen internalnya disolder secara manual seringkali mengalami putus koneksi (broken circuit) akibat guncangan terus menerus.
Solusi Engineering: Beralih ke Heavy-Duty Sensor (ADZ-SML 10.0)
Untuk aplikasi “keras” seperti ini, PT. Nida Tirta Utama merekomendasikan penggunaan Pressure Transmitter ADZ-SML 10.0 (German Technology).
Mengapa sensor ini menjadi favorit Engineer Maintenance dan disetujui Purchasing?
1. Teknologi Piezo-resistive Stainless Steel (Bukan Keramik) Berbeda dengan sensor low-end yang menggunakan membran keramik yang getas, ADZ-SML 10.0 menggunakan Stainless Steel Membrane dengan teknologi Thin-film Piezo-resistive.
- Keunggulan: Jauh lebih elastis dan tahan terhadap kejutan tekanan (Overpressure Safety tinggi). Jika terjadi spike, membran baja akan membal, tidak retak.
2. Shock & Vibration Proof (Standar IEC) Mengacu pada datasheet, sensor ini lolos uji:
- Resistance to Shock: Tahan jatuh/benturan hingga 1 meter (IEC 68-2-32).
- Vibration Resistance: Tahan getaran frekuensi tinggi 20g (IEC 68-2-6). Ini membuatnya sangat ideal dipasang langsung di body pompa atau mesin hidrolik yang bergetar hebat.
3. Range Luas & Durabilitas Ekstrem Mampu menangani range dari Vacuum (-1 Bar) hingga tekanan super tinggi 2.000 Bar. Body Full Stainless Steel dengan proteksi IP65 menjadikannya tahan korosi dan cipratan air di area pabrik.
Tips Memilih Range (Untuk Purchasing):
Agar sensor awet, jangan membeli sensor dengan range yang “pas-pasan”. Berikan Safety Factor.
- Tekanan Operasi: 10 Bar.
- Jangan Beli: Sensor 0-10 Bar. (Risiko jebol saat spike).
- Saran Kami: Beli Sensor 0-16 Bar atau 0-20 Bar.
- Alasan: Range ekstra ini memberikan ruang “bernapas” bagi sensor saat terjadi lonjakan tekanan sesaat, memperpanjang umur pakai alat hingga bertahun-tahun.
Kesimpulan: Mengganti sensor murah setiap 3 bulan jauh lebih mahal (biaya barang + biaya downtime mesin) dibandingkan berinvestasi pada satu sensor berkualitas yang tahan guncangan.
Sering ganti sensor di jalur hidrolik? Coba ADZ-SML 10.0. Konsultasikan tekanan operasi Anda, dan kami akan pilihkan range yang paling aman.




